The French Kisser
Sutradara: Riad Sattouf
Pemain: Vincent Lacoste, Anthony Sonigo, Alice Trémolières, Julie Scheibling, Camille Andreys, Robin Nizan-Duverger, Baptiste Huet, Simon Barbery, Irwan Bordji, Loreleï Chenet, Sihem Namani, Salomé Durchon, Noémie Billy, Emma Gregory, Thania Perez, Lise Bordenave, Louis Bankowsky, Nicolas Bouissy, Pablo Eskenazi, Victorien Rolland, Yanis Aït-Ali, Maya De Rio Campo, Florence Dottel, Noémie Lvovsky, Irène Jacob, Yannig Samot, François Hassan Guerrar, Christophe Vandevelde, Emmanuelle Devos, Roch Amédet Banzouzi 
Di jaman bapaknya masih bau kencur dulu, dapat ciuman bibir (catatan: ciuman dengan “lidah,” bukan sekedar “kecupan”) dari gadis saja sudah hal yang heboh. Kira-kira itulah yang diucapkan bapaknya Hervé (Vincent Lacoste) - kira-kira masih remaja SMP - ketika diinterogasi bapaknya soal cinta monyetnya. Tapi jaman sudah berubah. Sekedar melumatkan lidah ke lidah pasangan dan melakuan percampuran saliva di dalam kedua rongga mulut bukan tindakan sensasional lagi. Sebenarnya tidak apa-apa anak-anak di usia mereka bersenggama, begitulah pendapat Camel (Anthony Sonigo), sahabat dekat Hervé. Bapaknya Hervé sendiri terang-terangan bertanya apakah anaknya menggunakan kondom? Hervé menawab: Dua lapis sekaligus!
Sayangnya Hervé tidak sehebat itu. Sayangnya pesona seksual Hervé memang tidak sehebat gejolak hormonnya. Yang dia lakukan hanyalah berfantasi, mastrubasi sembari melototi majalah-majalah berisi gambar-gambar gadis seksi, atau mengintip jendela seberang yang sering kali berisi wanita telanjang. Camel malah lebih aneh lagi, dia mastrubasi sembari berfantasi sosok wanita dewasa. Tidak jarang juga mereka berdua mastrubasi sambil mengintip tetangga senggama, kaus kaki pun disiapkan biar tidak muncrat-muncrat.
Untungnya si Hervé punya ibu (Noémie Lvovsky) humoris yang bisa mengerti kebutuhan pubertas anaknya. Si ibu cekikikan saja melihat ulah-ulah pubertas canggung nan aneh anaknya. Ketika Hervé melatih ciuman Perancisnya dengan bayangan sendiri di cermin misalnya, si ibu yang suka tiba-tiba masuk kamar anaknya itu langsung saja bisa membuat lelucon. Tapi anak baru gede mana sih yang suka dibegitukan? Hervé butuh privasi! Buat eksperimentasi! Buat berfantasi! Buat onani!
Bagi saya sendiri, The French Kissers punya segudang alasan untuk dijadikan salah satu film remaja terbaik dekade ini (film remaja yang bisa dinikmati remaja, tentunya, bukan film remaja untuk dikaji orang-orang dewasa - bedakan!), duduk di daftar yang sama dengan C.R.A.Z.Y., L’Esquive, dan segelintir judul lainnya. Salah satu poinnya ialah dua karakter utama Hervé dan Camel. Berbeda dengan American Pie yang tokoh utamanya beefy dan hunky, Riad Sattouf malah menampilkan dua remaja canggung - yang satu karena terlalu kaku dan pemalu dan yang satu karena terlalu gayaan dan pedean. Tapi bukan sampai di situ saja keistimewaannya, film debutan Riad Sattouf ini tidak sekedar menampilkan adegan-adegan konyol yang harus dihadapi tokoh utama ala komedi-komedi Michael Cera, beliau lebih menggali kecanggung-kecanggungan keduanya menghadapi masa pubertas. Filmnya sendiri tidak terlalu ambil pusing soal konflik, tapi lebih menitikberatkan karakter, suasana, dan momennya.
Selain rutinitas fantasi dan mastrubasi, Hervé dan Camel (serta dua teman mereka yang lain yang sama saja canggungnya) juga mengisi waktu mereka dengan bisik-bisik sensual seputar gadis-gadis sekolah. Misalnya, tentang cantik tidaknya bentuk kaki para gadis hanya dengan melihat bentuk sepatunya. Atau tentang berani tidaknya salah satu dari mereka mendekati si gadis sasaran. Tidak heran kalau kecanggungan Hervé ini dijadikan lelucon oleh Laura (Julie Scheibling), salah satu gadis sekseh sekolahan. Laura mengajak Hervé kencan, dan ajakan itu ternyata hanya buat bahan tertawaan. Namun gadis yang sebenarnya ditaksi Hervé ialah Aurore (Alice Trémolières), si gadis paling cantik di sekolahan. Hervé selalu pulang sekolah dengan bus yang sama dengan Aurore, dan di dalam bus itu juga Hervé “tegang” tiap kali melihat Aurore.
Oh, kesempatan Hervé terbuka ketika Aurore duduk sebangku bersamanya di dalam bus. Langsung saja keduanya bercakap-cakap. Langsung saja keduanya berteman. Langsung saja keduanya akrab. Walaupun Aurore lah pihak yang agresif, sedangkan Hervé malah jadi pihak pasif. Singkat ceritanya, Hervé pun jatuh ke pelukan Aurore - atau sebaliknya. Keduanya malah tidak segan-segan melakukan adegan saling mencampur air liur saat bertemu. Lebih liar lagi, Aurore juga tidak tanggung mengajak Hervé kencan di kamarnya. Masalahnya, walaupun Aurore tidak keberatan dilumat bibirnya, dia keberatan bersenggama. Sekedar menyentuh gerbang keperawanan atau payudara saja Hervé tidak boleh. Aurore liar, tapi liar yang konservatif. Masalahnya kelamin Hervé tidak sekonservatif Aurore. Kerap kali berduaan dengan pacarnya di kamar, hormonnya tidak pernah bisa diajak kompromi. Hervé pun “tegang.” Nah kalau sudah “tegang,” Hervé kalang-kabut “menyembunyikan” biar tidak runyam.
Apalagi pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman Hervé yang selalu saja menyerang tiap kali dia usah berkencan, atau melumat bibir kekasih. Mulai dari bagaimana rasa bibirnya, sampai sudahkah melakukan hubungan badan dengan si pacar. Yah, benar-benar situasi yang rumit buat Hervé. Untungnya Vincent Lacoste, si aktor utama, sangat meyakinkan dengan penampilannya. Penampilan aktor-aktor remaja non-profesional lainnya juga sangat membantu film ini agar terlihat riil.
Sekilas The French Kissers mungkin hanya terlihat seperti komedi remaja biasa-biasa saja. Berita baiknya, Riad Sattouf punya cara unik - bukan baru sebenarnya - menyatukan sisi realistik dan sisi komikal. Terlihat jelas juga kalau sutradara yang satu ini punya mata yang tajam untuk mengupas sisi-sisi pubertas remaja. Film ini juga tidak segan menampilkan humor-humor yang terbilang berani. Kerennya lagi, filmnya Riad Sattouf punya begitu banyak momen-momen canggung yang sangat pas. Hasilnya film ini tidak hanya sekedar jadi komedi remaja biasa-biasa saja, tapi yang bisa dikaitkan dengan remaja mana saja. Jangan bohong! Cowok remaja mana yang belum pernah onani? Belum pernah bicara-bicara (atau sekedar berpikiran) nakal tentang cewek yang ditaksir? Belum pernah mimpi basah? Walaupun belum pernah memakai kondom dua lapis sekaligus!
CC: Rijon
Keluh kesah film independent di Indonesia
Film indipenden itu jalur nya ada 2, festival dan industri.festival sudah umum di indonesia, yg belum ada industri film indipenden ! Di negara eropa dan amerika, film indipenden itu punya industri nya sendiri, sehingga soal kualitas dan konten pun ada standarisasi nya !Secara analogi, ada nya industri film indipenden itu yg nanti nya akan berbicara standarisasi dan eksistensi sebuah karya film indipenden !
Dari sebuah manajemen pola industri masing2 yang sudah terbentuk,berbicara pra hingga distributor film indipenden akan berjalan mudah ! Kenapa mudah ? Jawaban nya simpel.karena konten kualitas dan eksistensi karya ada standarisasi nya yg terprogram di pola industri nya ! bicara industri film indipenden, kita akan ber azas kan konten yang menarik dan pemikirian pasar untuk menjaga eksistensi sebuah product !
Pertanyaan yang besar saat ini, kenapa gak ada yang membangun industri film indipenden di Indonesia ? Padahal kita punya SDM berkualitas ! Dulu ada yang ingin bangun industri tersebut gagal,karena hnya mengandalkan financial bkan jaringan.padahal indipenden terbentuk karena sebuah jaringan.So simple industri film indipenden terbentuk sukses, saat jaringan terbentuk serta supervisi konten dan manajemen produksi pun berjalan !
Ending curhat soal industri film indipenden yang harus di bentuk saat ini di Indonesia cuma 1 !
di bioskop yang pesaing itu dan distributor salah satu DVD di Indonesia sudah mendukung industri film indipenden ! Jawaban nya 1, yuk mari !
Industri film indipenden, yg jelas akan menjadi ladang kreatif bekarya yang menarik dan tempat continity sebuah karya seni film indipenden.
Ada yang pernah liat BTS film “momentos” ! Nah itu contoh pola industri film indipenden saat sebuah konten dan continity karya terbangun !
sekian terima kasih, semoga semakin menarik dan terus berkibar film indipenden menjadi sebuah industri
This is @morfem_band live at Eastern Promise.
sepertinya akan ada versi 1.2 untuk video ini, dikarenakan editing yang terburu-buru masih ada beberapa kesalahan karena kekurangtelitian … tunggu versi revisinya! tapi untuk sementara, nikmati dulu yang satu ini , Tidur dimanapun bermimpi kapanpun.
(Source: shaktisiddarta)
Hujan
kanapa hujan selalu berdampak galau pada diri saya ? cuaca seperti ini sepertinya sangat cocok untuk saya bertangis tangis ria yang sedang patah hati dan membuat orang kecewa.
kenapa harus hujan ? hujan tidak bersalah tetapi suasana dan aura nya saja kok …
-tulisan galau -
SEKUAT TENAGA UNTUK SAMPAI DISINI !
By: Bramasta J Sasongko
Sejenak setelah beraktivitas bersama anak-anak hari ini, gue kembali mengamati foto-foto dan juga video record release party kemaren. 20 Februari 2011 adalah hari yang bersejarah buat MORFEM. Bisa dibilang dari segala segi persiapan tentu lebih maksimal ketimbang manggung-manggung seperti biasanya.
Di titik ini, gue mengingat kembali ke belakang, flashback!, wwwooooosshhhh…. memutar potongan rekaman dalam ingatan, kebayang proses perjalanan MORFEM dan tercetuslah kalimat:”DAAMNN, kok bisa ya?”
Sudah sampai disini!
Perhatikan mulut dan urat lehernya, bernyanyi SEKUAT TENAGA untuk MORFEM.
(Source: misswallflower)
: Morfem di Ulas Jakarta Post, oleh Felix Dass
Four musicians take temporary leave from their respective bands to form a new group, Morfem. They’ve produced Indonesia, their magnificent debut EP.
Daily life in a band is always a bumpy road; the ups and downs are constant. Jimi Multazham experienced this when he got stuck in a rut with…
: Morfem di Jakarta Globe, bacalah!
Morfem
Lead singer Jimi Multhazam spends his regular hours fronting hugely popular new wave group The Upstairs.
But when he’s not, he’s making rock music with Morfem, a band that mixes the aggressiveness of 1980s hardcore groups such as Black Flag — before they turned into a thrash metal band…

